Lumayan lama aku tak pernah lagi memasuki kamarku yang satu ini, Empty jug, mungkin aku kekeringan ide, atau memang kaleng kendi ini sudah benar2 kosong, yang tentunya harus di isi dan akan di kuras lagi, ah... bahasa retorika...
btw, sering kali kita mendengar seseorang mengatakan " aku tak mau menyakiti perasaannya "
lalu orang yang tak mau menyakiti perasaan itu memilih diam...
diam??
apakah dengan diam masalah selesai dan orang yang tak mau di sakiti itu benar benar tak di sakiti??
hmm....
aku sempat teryakinkan dengan hal itu, kalo dengan diam kita tidak akan menyakiti perasaan orang, namun sayang sekali pemikiranku yang selalu mencari cari menemukan sebuah tanya yang lumayan membuat aku tersentak... bukankah itu adalah sebuah pemanfaatan??
pada saat kita diam , di sana mungkin ada sebuah rasa untuk tak menyakiti, namun ternyata di ujung kemunafikan ada sbuah kata yang tak terunkap, maanfaat!
pada saat kita diam, kita tak akan ragu dan sungkan untuk memulai sesuatu, dan tak akan pernah terbeban untuk "meminta" dan atau memberi sesuatu, karena dengan logika ego yang tak pernah di akui akan mengatakan, " aku khan bermaksud baik "
ah..
dengan diam kita akan selalu berada di posisi yang "benar"
memnag mungkin benar tp hanya pembenaran bukan sebuah kebenaran..
kebenaran saja akan bisa berubah sesuai dengan waktunya apalagi sebuah pembenaran...
pada saat kita selalu menempatkan seseorang pada status quo bukankan pada saat kita memerlukan orang itu kita tak akan malu meminta dan atau memberi sesuatu,
tp pada saat kita menempatkan orang sesuai dengan kedudukan dia yang kita inginkan tentunya pada saat kita berada di sudut memerlukan kita tak akan mampu memberi atau meminta sebebas pada saat kita menstatus quokan orang itu...
lalu apakah benar kata kata " aku tak mau menyakiti orang lain" dalam konteks kalimat itu atau hanya sebuah pemaanfaatan??
Hanya hati yang jujur dan tak terbalut kemunafikan yang terlalu besar mampu menjawabnya....
Senin, 19 April 2010
Minggu, 13 September 2009
Melelahkan JIwa....
Bernafas serasa berat membebani
Ku ingin bersandar sejenak…namun di mana
Tiada tempat aku berpaling
Tiada gubuk wahana aku melampiaskan amarahku
Walaupun aku bukan dengki…
Saat dinding kantor, kamar jalanan serasa semakin menyempit
Aku ingin sosokmu hadir buyarkan imaji yang terkungkung
Ahhhhh…..
Bukankah seorang yang mengantungkan seluruh kebahagiannya pada seseorang yg lain
Tidak lebih baik dari seorang pengemis yang mengais dan menangis demi makannya tiap hari??
Ah……
Kemana logika saat aku jatuh dalam jaring jaring kenikmatanmu
Walaupun hanya suara….seakan aku kehilangan dunia saat sesaat tanpanya
Kugurat dan kugores semua dinding hayalku dengan aksara aksara yang membentuk namamu….
Sial…….sekali hanya puing puing harap yang tak mampu berharap
Rabu, 26 Agustus 2009
Pendet di klaim Malaysia
sebuah cerita yang berulang dari bangsa ini...kebudayaan kita di klaim bangsa lain..katanya bangsa serumpun..
serumpun tetapi benar benar sangat mempunyai sifat yang mendasar sangat berbeda...
pemberani, dan mampu membusungkan dada di depan bangsa lain itu adalah malaysia
tak tahu malu tepatnya
sedangkan kita....
bangsa yang pemaaf, baik sopan dan santun atau kerdil??? entah kata yg mana yang tepat mengungkapkanya...
entah mengapa sepertinya bangsa Indonesia kehilangan keberaniannya
pernah kita di angkat sebagai macannya Asia, tetapi seiring jaman sepertinya Macan itu sudah kehilangan bukan saja giginya bahkan tulang belulangnya pun sudah menguap...
berturut turut dari tempe, reog ponorogo, batik, sekarang Pendet....
kita sudah kehilangan Timor timor lalu sepandan dan ligitan daan...akan lagi ambalat...
sebenarnya pempimpin yang sperti apa sich yang di perlukan bangsa ini???
hingga mampu menunjukan martabat bangsanya walaupun dalam kesulitan ekonomi??
manakah yang lebih berarti harga diri bangsa atao yang lain???
Indonesia bagi bangsa lain sepertinya sudah menjadi boneka lemah tak berdaya yang bisa di permainkan..
hingga tari Pendet yang sudah mendunia dan di akui sebagi tarian bali tanpa perlu di patenkan berani di caplok bangsa lain...ahhh...
Malaysia oh Malaysia..
satu hal yang perlu dicatat...
mereka negara muslim tp spertinya mereka tidak menjadikan agama sebagai tameng
kasino resmi ada di sana tp di indonesia??
munafik!! catat sekali lagi ! Munafik...
ah...pusing....
serumpun tetapi benar benar sangat mempunyai sifat yang mendasar sangat berbeda...
pemberani, dan mampu membusungkan dada di depan bangsa lain itu adalah malaysia
tak tahu malu tepatnya
sedangkan kita....
bangsa yang pemaaf, baik sopan dan santun atau kerdil??? entah kata yg mana yang tepat mengungkapkanya...
entah mengapa sepertinya bangsa Indonesia kehilangan keberaniannya
pernah kita di angkat sebagai macannya Asia, tetapi seiring jaman sepertinya Macan itu sudah kehilangan bukan saja giginya bahkan tulang belulangnya pun sudah menguap...
berturut turut dari tempe, reog ponorogo, batik, sekarang Pendet....
kita sudah kehilangan Timor timor lalu sepandan dan ligitan daan...akan lagi ambalat...
sebenarnya pempimpin yang sperti apa sich yang di perlukan bangsa ini???
hingga mampu menunjukan martabat bangsanya walaupun dalam kesulitan ekonomi??
manakah yang lebih berarti harga diri bangsa atao yang lain???
Indonesia bagi bangsa lain sepertinya sudah menjadi boneka lemah tak berdaya yang bisa di permainkan..
hingga tari Pendet yang sudah mendunia dan di akui sebagi tarian bali tanpa perlu di patenkan berani di caplok bangsa lain...ahhh...
Malaysia oh Malaysia..
satu hal yang perlu dicatat...
mereka negara muslim tp spertinya mereka tidak menjadikan agama sebagai tameng
kasino resmi ada di sana tp di indonesia??
munafik!! catat sekali lagi ! Munafik...
ah...pusing....
Senin, 13 Juli 2009
saat

mungkin saat angan bertemu realita semuanya terasa indah
saat hati membalut cinta dan terbalut perhatian
sungguh dunia terasa berbaik hati...
tapi pernahkah kita atau anda sendiri
merenung, menarik sebuah kesimpulan atas perasaan
yng terombang ambing kebimbangan
keraguan terhadap diri sendiri
asa tak pernah bertemu dengan nyata
bahkan sangat jauh menjauh
apakah di saat itu kita masih mampu berkata
kalau dunia bersimpati sama kita
memberikan apa angan kita???
pertanyaanku
manusia mana yg mampu memberikan ruang yg sama
pada derita dan gergita....
hingga semuanya menjadi abu dalam kesetaraan
tanpa gejolak...
apakah itu di sebut indah??????
Jumat, 05 Juni 2009
ada
mengukir namamu
tiap hari semakin dalam tergurat dalam nurani
aku lelah
aku marah
bukan denganmu
hanya padaku
kusenandungkan
sepenggal namamu tiap sukmaku bergumam
memandangimu aku ingin
bersamamu aku mau
namun
gemeretak hatiku
tak terdengar olehmu
ku tekuk wajahku
pesanku tiada sampai padamu...
ku menunggumu.............membalasku.....
tiap hari semakin dalam tergurat dalam nurani
aku lelah
aku marah
bukan denganmu
hanya padaku
kusenandungkan
sepenggal namamu tiap sukmaku bergumam
memandangimu aku ingin
bersamamu aku mau
namun
gemeretak hatiku
tak terdengar olehmu
ku tekuk wajahku
pesanku tiada sampai padamu...
ku menunggumu.............membalasku.....
Kamis, 04 Juni 2009
cerita ta berujung
kadang aku begitu merasa tak terabaikan
terkungkung dalam egoisku untuk memilikimu
hingga aku hanya bisa mengejarmu dalam persefektifku
kadang melupakan harga diriku...
masihkah aku punya harga diri??
sedangkan aku tiap saat memujamu dalam benakku...??
arghhhhh....................
terkungkung dalam egoisku untuk memilikimu
hingga aku hanya bisa mengejarmu dalam persefektifku
kadang melupakan harga diriku...
masihkah aku punya harga diri??
sedangkan aku tiap saat memujamu dalam benakku...??
arghhhhh....................
Selasa, 02 Juni 2009
ah.......
kadang semangat itu terbersit
membumbung dlm benakku
meraih angkasa.....
sandiwara jiwa berperan dingin
beku menasbih hati dengan kepalsuan
senja menjemput
berontak hati pada hidup yg terlalu cepat berganti
ah....
puisi tanpa arti
prosa tanpa makna
membumbung dlm benakku
meraih angkasa.....
sandiwara jiwa berperan dingin
beku menasbih hati dengan kepalsuan
senja menjemput
berontak hati pada hidup yg terlalu cepat berganti
ah....
puisi tanpa arti
prosa tanpa makna
Langganan:
Postingan (Atom)